PASARAN KEWAN ING PASAR
Ing tulisan iki penulis kepéngin atur
pandengan manowo ono péranganing budhoyo lan idat istiadat Jowo kang duk jaman
biyèn dadi peugeran tumraping pakaryan pangupojiwo lan dedagangan kang mapan
lan maton. Emané ing jaman saiki, perangan budhoyo Jowo mau wus ôra dianggô
manèh.
Pasar
Pengertian Pasar jaman sekarang menjadi abstrak, karena berupa lembaga tempat
transformasi barang dan jasa menjadi memiliki nilai nominal. Barang dan jasa
menjadi punya harga. Namun demikian dalam bahasa Jawa, pasar itu sama dengan pekan
atau peken. Tempat keramaian dimana terjadi proses transaksi berbagai macam
barang dan jasa, tempat ”jual-beli” secara massal (Kamus Kawi-Indonesia,
Wojowasito, cetakan ke-10 tanpa tahun; Kamus Jawa Kuna Indonesia, Zoetmulder,
2004). Jadi, pasar, pekan dan peken adalah kata asli Jawa karena ada dalam
bahasa Jawa Kuno, Bahasa Kawi dan dipergunakan sehari-hari oleh masyarakat Jawa
hingga sekarang.
Dalam tradisi Jawa yang disebut Hari Pasaran yang terdiri dari
Pon,Wage,Kliwon,Legi (Manis),Pahing.
Bagi yang meyakini, masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri.
Di wilayah Blitar dan sekitarnya hari pasaran tersebut dijadikan nama pasar
yang terletak di beberapa wilayah. Itu bukan hanya untuk nama pasar tapi
merupakan momentum yang sudah ada sejak dahulu, kalau pada hari Pasaran
tersebut suasana perdagangan lebih ramai dari hari-hari lainnya.Yang
menyenangkan, keramaian itu terjadi dari pagi. Yang menarik di pasar Desa ini
adalah banyaknya pedagang hewan-hewan yang datang baik pengunjung maupun
pedagang. Contohnya pasaran hewan di pasar Tangkil kecamatan Wlingi pada hari
selasa, kamis, dan sabtu.
Nama-nama Pasaran Hewan Di Blitar
Blitar
|
PH Kesamben
|
Ds. Kesamben, Kec. Kesamben
|
Senin
|
Sapi, Kambing, Domba, Unggas
|
|
PH Wlingi
|
Ds. Tangkil, Kec. Wlingi
|
Selasa, Kamis dan Sabtu
|
Sapi, Kerbau, Kambing, Domba,
Unggas
|
||
PH Lorejo
|
Ds. Lorejo, Kec. Bakung
|
Wage dan Pahing
|
Kambing, Domba
|
||
P.H Resap Ombo
|
Desa Resap Ombo, Kecamatan Doko
|
Legi
|
Kambing, Domba
|
||
P.H Wonodadi
|
Desa Wonodadi, Kecamatan Wonodadi
|
Pon dan Legi
|
Kambing, Domba, Unggas
|
||
P.H Bendorejo
|
Desa Bendorejo, Kecamatan Ponggok
|
Wage dan Pahing
|
Sapi, Kambing, Domba , Unggas
|
||
P.H Kawedusan
|
Desa Kawedusan, Kecamatan Ponggok
|
Kliwon
|
Kambing, Domba
|
||
P.H Kebonduren
|
Desa Kebonduren, Kecamatan Ponggok
|
Kliwon
|
Kambing, Domba
|
||
P.H Kademangan
|
Kelurahan Kademangan
|
Wage dan Kliwon
|
Kambing, Domba
|
||
P.H Bantengan
|
Kecamatan Wates
|
Wage dan Pahing
|
Sapi, kambing,Domba
|
||
P.H Sutojayan
|
Kelurahan Wlingi
|
Senin dan Jumat
|
Kambing, Domba, Unggas
|
CARA
PERHITUNGAN MEMBELI HEWAN TERNAK MENURUT PRIMBON BETALJEMUR ADAMMAKNA
Hewan ternak adalah salah satu
kekayaan atau sering disebut “rajakaya”. Ada juga hewan yang dianggap sebagai
sarana hiburan atau dalam istilah Jawa disebut sebagai “klangenan”. Baik
sebagai rajakaya ataupun sebagai klangenan tentunya si empunya peliharaan
berharap agar hewan kesayangannya selalu dalam keadaan baik. Keadaan baik tidak
hanya tergantung pada cara pemeliharaan hewan namun hal lain yang ikut
berpengaruh adalah hari pembelian hewan ternak. Berikut cara perhitungan
membeli hewan ternak menurut
Kitab Primbon Betaljemur
Adammakna.
1
Neptu hari
1.
Minggu, neptu 5
2. Senin,
neptu 4
3. Selasa,
neptu 3
4. Rabu,
neptu 7
5. Kamis,
neptu 8
6. Jumat,
neptu 6
7. Sabtu,
neptu 9
2 Neptu hari pasaran
1. Kliwon,
neptu 8
2. Legi,
neptu 5
3. Pahing,
neptu 9
4. Pon,
neptu 7
5. Wage,
neptu 4
Cara perhitungan
Neptu hari dan pasaran ketika
akan membeli hewan ternak dijumlah kemudian dibagi dengan angka 5 (lima). Dari
hasil pembagian akan didapatkan sisa hasil pembagian. Berikut makna perhitungan
sisa hasil bagi :
1.
Jika sisa 1 disebut suku artinya tidak baik untuk
membeli hewan ternak.
2.
Jika sisa 2 disebut watu artinya tidak baik untuk
membeli hewan ternak.
3.
Jika sisa 3 disebut gajah artinya tidak baik untuk
membeli hewan ternak.
4.
Jika sisa 4 disebut buta artinya baik untuk membeli
hewan ternak.
5.
Jika sisa 5 disebut ratu artinya sangat baik untuk membeli
hewan ternak.
Hasil penjumlahan hari dan
pasaran yang habis dibagi 5 seperti 10 dan 15 termasuk dalam sisa 5
Contoh Perhitungan
Pak
Martoyo (narasumber) ingin membeli sapi pada hari Kamis Pon. Perhitungan neptu
hari Kamis adalah 8 dan neptu pasaran pon adalah 7. Maka jumlahnya adalah
8 + 7 = 15. Angka 15 jika dibagi angka 5 akan didapatkan sisa 5 yang
artinya ratu. Artinya, pada hari Kamis Pon merupakan hari yang baik bagi Pak
Martoyo untuk membeli sapi.
Jika
dilihat dari segi Ontolgy, “Pasaran Kewan Ing Pasar” sejak dahulu orang Jawa telah
mempunyai “perhitungan“ (petung Jawa) tentang pasaran, hari, dan bulan. Perhitungan
itu meliputi baik buruknya pasaran, hari, dan bulan. Khususnya tentang hari dan
pasaran kewan ing pasar. Contohnya pasaran kewan ing pasar desa
Tangkil kecamatan Wlingi yang hanya ada pada hari selasa, kamis, dan sabtu.
Masyarakat masih melestarikan adat istiadat jawa dari nenek moyang dan mereka
mempercayai itu semua. Masyarakat Blitar khususnya Wlingi dan sekitarnya masih
memakai perhitungan Jawa untuk membeli hewan ternak menurut primbon atau
kalender. Seperti yang di lakukan pak Martoyo (narasumber) yang masih menggukan
kalender jawa dari Koperasi Serba Usaha “Giri Artha” desa Plumbangan, kecamatan
Doko, Kabupaten Blitar untuk melihat baik buruknya membeli hewan ternak.
Jika
dilihat dari segi Epistemology, “Pasaran Kewan Ing Pasar” dalam pehitungan
orang jawa pasaran sudah menjadi jati diri. Perhitungan jawa sudah lekat dan
sulit di hilangkan dalam benak mereka. Sudah menjadi sebuah tradisi yang unik
dan menarik (the traditional javanese preoccupation). Rupa-rupanya para
pengamat budaya Jawa masih kesulitan menjelaskan secara logis nilai-nilai
tersebut dan dari mana asal usul adat istiadat tersebut, kapan dan siapa
penemunya. Umumnya orang Jawa hanya taat pada budaya tradisi leluhur tanpa ada
upaya untuk memecahkan upaya tersebut. Akhirnya, pasaran dan perhitungan
demikian selamanya masih misterius dan
mereka enggan menjelaskan misteri hidupnya itu semua.
Jika
dilihat dari segi Aksiologi, masing-masing hari dan pasaran memiliki nilai
angka yang dapat di gunakan untuk meramal berbagai hal. Seperti baik buruknya
membeli hewan ternak di hari dan pasaran yang tepat. Masyarakat Blitar
khususnya Wlingi dan sekitarnya masih banyak di gunakan dan tidak di rubah
keaslianya.
Dan
pertanyaannya adalah masih adakah pasaran dan perhitungan Jawa di tahun 2030???? hehehe…
Mugo-mugo
tulisan iki bisa ono gunane tumraping para sutresno Kabudayan Jowo kabeh, lan
bisôo dadi salah sawijining perkoro kanggo boworoso. Nuwun.
Saya suka dg hitungan jawa...mau ternak kambing beli hari minggu legi ah...
BalasHapusSaya suka dg hitungan jawa...mau ternak kambing beli hari minggu legi ah...
BalasHapusKalo 9+7=16÷5=3,2 itu kemasuknya apa bos
BalasHapus15 di bagi 5 kog sisa 5 bgaimana cara hitung nya
BalasHapus