Sabtu, 01 Februari 2014

ALA BLITAR



PASARAN KEWAN ING PASAR





Ing tulisan iki penulis kepéngin atur pandengan manowo ono péranganing budhoyo lan idat istiadat Jowo kang duk jaman biyèn dadi peugeran tumraping pakaryan pangupojiwo lan dedagangan kang mapan lan maton. Emané ing jaman saiki, perangan budhoyo Jowo mau wus ôra dianggô manèh.


Pasar

Pengertian Pasar jaman sekarang menjadi abstrak, karena berupa lembaga tempat transformasi barang dan jasa menjadi memiliki nilai nominal. Barang dan jasa menjadi punya harga. Namun demikian dalam bahasa Jawa, pasar itu sama dengan pekan atau peken. Tempat keramaian dimana terjadi proses transaksi berbagai macam barang dan jasa, tempat ”jual-beli” secara massal (Kamus Kawi-Indonesia, Wojowasito, cetakan ke-10 tanpa tahun; Kamus Jawa Kuna Indonesia, Zoetmulder, 2004). Jadi, pasar, pekan dan peken adalah kata asli Jawa karena ada dalam bahasa Jawa Kuno, Bahasa Kawi dan dipergunakan sehari-hari oleh masyarakat Jawa hingga sekarang.

Dalam tradisi Jawa yang disebut Hari Pasaran yang terdiri dari Pon,Wage,Kliwon,Legi (Manis),Pahing. Bagi yang meyakini, masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri. Di wilayah Blitar dan sekitarnya hari pasaran tersebut dijadikan nama pasar yang terletak di beberapa wilayah. Itu bukan hanya untuk nama pasar tapi merupakan momentum yang sudah ada sejak dahulu, kalau pada hari Pasaran tersebut suasana perdagangan lebih ramai dari hari-hari lainnya.Yang menyenangkan, keramaian itu terjadi dari pagi. Yang menarik di pasar Desa ini adalah banyaknya pedagang hewan-hewan yang datang baik pengunjung maupun pedagang. Contohnya pasaran hewan di pasar Tangkil kecamatan Wlingi pada hari selasa, kamis, dan sabtu.

Nama-nama Pasaran Hewan Di Blitar


Blitar
PH Kesamben
Ds. Kesamben, Kec. Kesamben
Senin
Sapi, Kambing, Domba, Unggas


PH Wlingi
Ds. Tangkil, Kec. Wlingi
Selasa, Kamis dan Sabtu
Sapi, Kerbau, Kambing, Domba, Unggas


PH Lorejo
Ds. Lorejo, Kec. Bakung
Wage dan Pahing
Kambing, Domba


P.H Resap Ombo
Desa Resap Ombo, Kecamatan Doko
Legi
Kambing, Domba


P.H Wonodadi
Desa Wonodadi, Kecamatan Wonodadi
Pon dan Legi
Kambing, Domba, Unggas


P.H Bendorejo
Desa Bendorejo, Kecamatan Ponggok
Wage dan Pahing
Sapi, Kambing, Domba , Unggas


P.H Kawedusan
Desa Kawedusan, Kecamatan Ponggok
Kliwon
Kambing, Domba


P.H Kebonduren
Desa Kebonduren, Kecamatan Ponggok
Kliwon
Kambing, Domba


P.H Kademangan
Kelurahan Kademangan
Wage dan Kliwon
Kambing, Domba


P.H Bantengan
Kecamatan Wates
Wage dan Pahing
Sapi, kambing,Domba


P.H Sutojayan
Kelurahan Wlingi
Senin dan Jumat
Kambing, Domba, Unggas

CARA PERHITUNGAN MEMBELI HEWAN TERNAK MENURUT PRIMBON BETALJEMUR ADAMMAKNA

Hewan ternak adalah salah satu kekayaan atau sering disebut “rajakaya”. Ada juga hewan yang dianggap sebagai sarana hiburan atau dalam istilah Jawa disebut sebagai “klangenan”. Baik sebagai rajakaya ataupun sebagai klangenan tentunya si empunya peliharaan berharap agar hewan kesayangannya selalu dalam keadaan baik. Keadaan baik tidak hanya tergantung pada cara pemeliharaan hewan namun hal lain yang ikut berpengaruh adalah hari pembelian hewan ternak. Berikut cara perhitungan membeli hewan ternak menurut

Kitab Primbon Betaljemur Adammakna.




1      Neptu hari 
1.    Minggu, neptu 5
2.    Senin, neptu 4
3.    Selasa, neptu 3
4.    Rabu, neptu 7
5.    Kamis, neptu 8
6.    Jumat, neptu 6
7.    Sabtu, neptu 9
2      Neptu hari pasaran
1.    Kliwon, neptu 8
2.    Legi, neptu 5
3.    Pahing, neptu 9
4.    Pon, neptu 7
5.    Wage, neptu 4

Cara perhitungan

Neptu hari dan pasaran ketika akan membeli hewan ternak dijumlah kemudian dibagi dengan angka 5 (lima). Dari hasil pembagian akan didapatkan sisa hasil pembagian. Berikut makna perhitungan sisa hasil bagi :
1.        Jika sisa 1 disebut suku artinya  tidak baik untuk membeli hewan ternak.
2.        Jika sisa 2 disebut watu artinya tidak baik untuk membeli hewan ternak.
3.        Jika sisa 3 disebut gajah artinya tidak baik untuk membeli hewan ternak.
4.        Jika sisa 4 disebut buta artinya baik untuk membeli hewan ternak.
5.        Jika sisa 5 disebut ratu artinya sangat baik untuk membeli hewan ternak.
Hasil penjumlahan hari dan pasaran yang habis dibagi 5 seperti 10 dan 15  termasuk dalam sisa 5

Contoh Perhitungan
Pak Martoyo (narasumber) ingin membeli sapi pada hari Kamis Pon. Perhitungan neptu  hari Kamis adalah 8 dan neptu pasaran pon adalah 7. Maka jumlahnya adalah 8 + 7 = 15. Angka 15 jika dibagi angka 5  akan didapatkan sisa 5 yang artinya ratu. Artinya, pada hari Kamis Pon merupakan hari yang baik bagi Pak Martoyo untuk membeli sapi.

Jika dilihat dari segi Ontolgy, “Pasaran Kewan Ing Pasar” sejak dahulu orang Jawa telah mempunyai “perhitungan“ (petung Jawa) tentang pasaran, hari, dan bulan. Perhitungan itu meliputi baik buruknya pasaran, hari, dan bulan. Khususnya tentang hari dan pasaran kewan ing pasar. Contohnya pasaran kewan ing pasar desa Tangkil kecamatan Wlingi yang hanya ada pada hari selasa, kamis, dan sabtu. Masyarakat masih melestarikan adat istiadat jawa dari nenek moyang dan mereka mempercayai itu semua. Masyarakat Blitar khususnya Wlingi dan sekitarnya masih memakai perhitungan Jawa untuk membeli hewan ternak menurut primbon atau kalender. Seperti yang di lakukan pak Martoyo (narasumber) yang masih menggukan kalender jawa dari Koperasi Serba Usaha “Giri Artha” desa Plumbangan, kecamatan Doko, Kabupaten Blitar untuk melihat baik buruknya membeli hewan ternak.
Jika dilihat dari segi Epistemology, “Pasaran Kewan Ing Pasar” dalam pehitungan orang jawa pasaran sudah menjadi jati diri. Perhitungan jawa sudah lekat dan sulit di hilangkan dalam benak mereka. Sudah menjadi sebuah tradisi yang unik dan menarik (the traditional javanese preoccupation). Rupa-rupanya para pengamat budaya Jawa masih kesulitan menjelaskan secara logis nilai-nilai tersebut dan dari mana asal usul adat istiadat tersebut, kapan dan siapa penemunya. Umumnya orang Jawa hanya taat pada budaya tradisi leluhur tanpa ada upaya untuk memecahkan upaya tersebut. Akhirnya, pasaran dan perhitungan demikian selamanya masih misterius  dan mereka enggan menjelaskan misteri hidupnya itu semua.
Jika dilihat dari segi Aksiologi, masing-masing hari dan pasaran memiliki nilai angka yang dapat di gunakan untuk meramal berbagai hal. Seperti baik buruknya membeli hewan ternak di hari dan pasaran yang tepat. Masyarakat Blitar khususnya Wlingi dan sekitarnya masih banyak di gunakan dan tidak di rubah keaslianya.

Dan pertanyaannya adalah masih adakah pasaran dan perhitungan Jawa di tahun 2030???? hehehe…




Mugo-mugo tulisan iki bisa ono gunane tumraping para sutresno Kabudayan Jowo kabeh, lan bisôo dadi salah sawijining perkoro kanggo boworoso. Nuwun.






4 komentar:

  1. Saya suka dg hitungan jawa...mau ternak kambing beli hari minggu legi ah...

    BalasHapus
  2. Saya suka dg hitungan jawa...mau ternak kambing beli hari minggu legi ah...

    BalasHapus
  3. Kalo 9+7=16÷5=3,2 itu kemasuknya apa bos

    BalasHapus
  4. 15 di bagi 5 kog sisa 5 bgaimana cara hitung nya

    BalasHapus