Nama : Rena Candra Tristiana
NIM : 11105540010
Fakultas: SOSPOL
PS: Ilmu Komunikasi
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Perkembangan
teknologi informasi yang begitu pesat telah merambah ke berbagai sektor
termasuk kesehatan. Meskipun dunia kesehatan (dan medis) merupakan bidang yang
bersifat information-intensive, akan tetapi adopsi teknologi informasi relatif
tertinggal. Sebagai contoh, ketika transaksi finansial secara elektronik sudah
menjadi salah satu prosedur standar dalam dunia perbankan, sebagian besar rumah
sakit di Indonesia baru dalam tahap perencanaan pengembangan billing system.
Meskipun rumah sakit dikenal sebagai organisasi yang padat modal-padat karya,
tetapi investasi teknologi informasi masih merupakan bagian kecil.
Komunikasi
kesehatan merupakan upaya sistematis yang
secara positif mempengaruhi praktik-praktik kesehatan populasi-populasi besar.
Sasaran utama promosi kesehatan adalah melakukan perbaikan kesehatan yang
berkaitan dengan praktik dan pada gilirannya status kesehatan. Komunikasi
kesehatan yang efektif merupakan suatu kombinasi antara seni dan ilmu,
setidaknya salah satu dari kunci-kunci keberhasilan adalah penerapan metodologi
komunikasi kesehatan yang ilmiah serta sistematis bagi masalah-masalah kesehatan
masyarakat. meskipun strategi komunikasi pada suatu negara berbeda-beda, tetapi
metodologi yang digunakan sama saja dan sama-sama penting bagi penyusunan
program-program komunikasi yang mencerminkan kebutuhan dan konteks
kultural di tiap-tiap negara. Metodologi komunikasi meliputi lima langkah:
penilaian, perencanaan, pre-test, penyampaian dan pemantauan
(Rasmuson,Seidel,Smith & booth).
Pendekatan komunikasi kesehatan
diturunkan dari berbagai disiplin ilmu, meliputi pemasaran sosial, antropologi,
analisis perilaku, periklanan, komunikasi, pendidikan serta ilmu-ilmu sosial
yang lain. berbagai disiplin ilmu tersebut saling melengkapi, saling
tukar-menukar prinsip dan teknik umum satu sama lain, sehingga masing-masing
memberikan sumbangan yang unik bagi metodologi komunikasi kesehatan.
Komunikasi kesehatan didefinisikan
sebagai “modifikasi perilaku manusia serta faktor-faktor sosial yang berkaitan
dengan perilaku,yang secara langsung maupun tidak langsung mempromosikan
kesehatan, mencegah penyakit atau melindungi individu-individu terhadap bahaya”
(Elder, Geller, Hovell & Mayer, sedang dalam pencetakan).
karena berakar pada bidang pendidikan dan penyuluhan kesehatan, maka komunikasi
kesehatan sangat dipengaruhi oleh psikologi, komunikasi dan berbagai disiplin
ilmu perilaku yang lain. hal-hal yang paling mendominasi di sini adalah
teori-teori dan model-model perilaku kesehatan yang berbasis pada psikologi.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis dapat
membuat rumusan masalah sebagai berikut:
1.2.1.
Apa yang di maksud dengan difusi dan inovasi?
1.2.2.
Bagaimana sejarah perkembangan difusi inovasi?
1.2.3.
Bagaimana teori-teori difusi inovasi?
1.2.4. Bagaimana tahapan peristiwa yang menciptakan proses difusi inovasi?
1.3.
Tujuan Penulisan
Tujuan
penulis membuat
makalah ini adalah untuk pembelajaran penerapan mata kuliah Jurnalistik
Online dengan tema Difusi Inovasi Komunikasi Kesehatan.Selain itu, penulis
juga ingin mengetahui apa pengertian difusi dan inovasi itu sendiri, sejarah
perkembangan difusi inovasi, teori-teori difusi inovasi dan tahapan
peristiwa yang menciptakan proses difusi inovasi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian Difusi dan Inovasi
Difusi adalah proses
pengkomunikasian inovasi melalui saluran?saluran ter tentu dalam jangka waktu
tertentu di kalangan anggota suatu sistem sosial. Difusi adalah suatu corak
khusus komunikasi, yang pesannya mengenai ide?ide ba ru. Komunikasi adalah
proses yang para pesertanya bersicipta dan bersitukar in formasi untuk mencapai
kesepakatan bersama. Batasan ini berarti bahwa komunikasi adalah proses memadu
(atau memisah) karena dua orang atau lebih bertukar informasi itu
saling-mendekat (atau saling menjauh) dalam memaknai peristiwa?peristiwa
tertentu. Kami memandang komunikasi sebagai suatu proses pemaduan tindakan dua
arah, bu kannya sebagai tindakan searah atau lurus di mana seseorang memindah
suatu pesan kepada yang lain (Rogers dan Kincaid 1981).
Inovasi adalah gagasan, tindakan
atau barang yang dianggap baru oleh seseo rang atau satuan pengguna lain.
Selama berkenaan dengan perilaku manusia, ti dak terlalu dipersoalkan apakah
suatu ide itu “secara obyektif” baru (seandainya di ukur dengan selang waktu
sejak pertama kali digunakan atau ditemukan) atau ti dak. Pandangan seseorang
tentang kebaruan suatu ide menentukan reaksinya ter hadap ide tersebut.
Apabila ide itu dipandang baru oleh seseorang, maka itu ino vasi. Kebaruan
suatu inovasi mencakup tidak sekedar “baru mengetahui”. Sese orang mungkin
telah cukup lama mengetahui (kenal) suatu inovasi tetapi belum menentukan sikap
(berkenan atau tak berkenan) terhadapnya, atau belum menga dopsi atau
menolaknya. Aspek “kebaruan” suatu inovasi bisa dinyatakan dalam batasan
pengenalan, persuasi (penyikapan), atau keputusan untuk menggunakan.
2.2. Sejarah
Perkembangan Difusi Inovasi
Munculnya Teori Difusi Inovasi dimulai pada awal
abad ke-20, tepatnya tahun 1903, ketika seorang sosiolog Perancis, Gabriel
Tarde, memperkenalkan Kurva Difusi berbentuk S (S-shaped Diffusion Curve).
Kurva ini pada dasarnya menggambarkan bagaimana suatu inovasi diadopsi
seseorang atau sekolompok orang dilihat dari dimensi waktu. Pada kurva ini ada
dua sumbu dimana sumbu yang satu menggambarkan tingkat adopsi dan sumbu yang
lainnya menggambarkan dimensi waktu.
Pemikiran Tarde menjadi penting karena secara
sederhana bisa menggambarkan kecenderungan yang terkait dengan proses difusi
inovasi. Rogers (1983) mengatakan, Tarde’s S-shaped diffusion curve is of
current importance because “most innovations have an S-shaped rate of
adoption”. Dan sejak saat itu tingkat adopsi atau tingkat difusi menjadi fokus
kajian penting dalam penelitian-penelitian sosiologi.
Pada tahun 1940, dua orang sosiolog, Bryce Ryan dan
Neal Gross, mempublikasikan hasil penelitian difusi tentang jagung hibrida pada
para petani di Iowa, Amerika Serikat. Hasil penelitian ini memperbarui
sekaligus menegaskan tentang difusi inovasimodel kurva S. Salah satu kesimpulan
penelitian Ryan dan Gross menyatakan bahwa “The rate of adoption of the
agricultural innovation followed an S-shaped normal curve when plotted on a
cumulative basis over time.”
Perkembangan berikutnya dari teori Difusi Inovasi
terjadi pada tahun 1960, di mana studi atau penelitian difusi mulai dikaitkan
dengan berbagai topik yang lebih kontemporer, seperti dengan bidang pemasaran,
budaya, dan sebagainya. Di sinilah muncul tokoh-tokoh teori Difusi Inovasi
seperti Everett M. Rogers dengan karya besarnya Diffusion of Innovation (1961);
F. Floyd Shoemaker yang bersama Rogers menulis Communication of
Innovation: A Cross Cultural Approach (1971) sampai Lawrence A. Brown yang
menulis Innovation Diffusion: A New Perpective (1981).
2.3. Teori-teori Difusi
Inovasi
Model
teori difusi inovasi digunakan untuk pendekatan dalam komunikasi pembangunan,
terutama di negara berkembang seperti Indonesia atau dunia ketiga. Tokohnya
Everett M. Rogers mendefinisikan difusi sebagai proses dimana suatu inovasi
dikomunikasikan melalui saluran tertentu dalam jangka waktu tertentu dari para
anggota suatu sistem sosial. Difusi adalah suatu jenis khusus komunikasi yang
berkaitan dengan penyebaran pesan – pesan sebagai ide baru, sedangkan
komunikasi didefinisikan sebagai proses di mana para pelakunya menciptakan
informasi dan saling bertukar informasi tersebut untuk mencapai pengertian
bersama. Didalam pesan itu terdapat keermasaan ( newness ) yang memberikan ciri
khusus kepada difusi yang menyangkut ketakpastian ( uncertainty ). Derajat
ketidak pastian seseorang akan dapat dikurangi dengan jalan memperoleh
informasi. Unsur utama difusi adalah Inovasi yang dikomunikasikan melalui
salura tertentu dalam jangka waktu tertentu diantara para anggota suatu sistem
sosial. Inovasi adalah suatu ide, karya atau objek yang dianggap yang dirasakan
oleh anggota suatu sistem sosial menentukan tingkat adopsi: relative advantage
(keuntungan relative), compatibility (kesesuaian), complexity (kerumitan), trialability
(kemungkinan di coba), observability
(kemungkinan diamati). Relative advantage adalah sustu derajat dimana inovasi
dirasakan lebih baik dari pada ide lain yang menggatinkaanya.derajat keuntungan
tersebut bisa dihitung secar ekonomis, tetapi faktor prestasi sosial,
kenyamanan dan kepuasan juga merupakan unsur penting. Compatibility adalah suatu
derajat dimana inovasi diraskan ajeg atau konsisten dengan nilai – nilai yang
berlaku, pengalaman dan kebutuhan mereka yang melakukan adopsi. Complexity
adalah mutu derajat dimana inovasi dirasakan sukar untuk dimengerti dan
dipergunakan. Trialability adalah mutu derajat dimana inovasi di
eksperimentasikan pada landasan yang terbatas. Observability adalah suatu
derajat dimana inovasi dapat disaksikan oleh orang lain. Umumnya aplikasi
komunikasi massa yang utama berkaitan dengan proses adopsi inovasi ( hal – hal
/ nilai baru ). Hal ini sangat relevan yang sudah maju. Kondisi perubahan
sosial dan teknologi dalam masyarakat melahirkan kebutuhan yang dapat
menggatikan metode lama dengan metode yang baru. Semua itu menyangkut
komunikasi massa karena berada dalam situasi dimana perubahan potensial bermula
dari riset ilmiah, dan kebijaksanaan umum yang harus diterapkan oleh
masyarakat. Dalam pelaksanaannya, sasaran dari difusi inovasi adalah para
petani dan anggota masyarakat peesaaan. Usaha – usaha difusi inovasi pertama
kali dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 1920-an dan 1930-an, dan sekarang
menjadi program – program pembagunan di Negara sedang berkembang. Usaha – usaha
ini tidak hanya berhubungan dengan masalah pertanian saja, tetapi juga dengan
masalah kesehatan, dan sosial politik. Jauh sebelum ada pemikiran tentang
pengujian pengaruh antarpribadi dalam riset komunikasi massa, usaha – usaha ini
telah depraktikan oleh ahli sosiolog pedesaan dan agen – agen perubahan.
2.3. Tahapan Peristiwa yang Menciptakan Proses Difusi
- Mempelajari Inovasi: Tahapan ini merupakan tahap awal ketika masyarakat mulai melihat, dan mengamati inovasi baru dari berbagai sumber, khususnya media massa. Pengadopsi awal biasanya merupakan orang-orang yang rajin membaca koran dan menonton televisi, sehingga mereka bisa menangkap inovasi baru yang ada. Jika sebuah inovasi dianggap sulit dimengerti dan sulit diaplikasikan, maka hal itu tidak akan diadopsi dengan cepat oleh mereka, lain halnya jika yang dianggapnya baru merupakan hal mudah, maka mereka akan lebih cepat mengadopsinya. Beberapa jenis inovasi bahkan harus disosialisasikan melalui komunikasi interpersonal dan kedekatan secara fisik.
- Pengadopsian: Dalam tahap ini masyarakat mulai menggunakan inovasi yang mereka pelajari. Diadopsi atau tidaknya sebuah inovasi oleh masyarakat ditentukan juga oleh beberapa faktor. Riset membuktikan bahwa semakin besar keuntungan yang didapat, semakin tinggi dorongan untuk mengadopsi perilaku tertentu. Adopsi inovasi juga dipengaruhi oleh keyakinan terhadap kemampuan seseorang. Sebelum seseorang memutuskan untuk mencoba hal baru, orang tersebut biasanya bertanya pada diri mereka sendiri apakah mereka mampu melakukannya. Jika seseorang merasa mereka bisa melakukannya, maka mereka akan cenderung mangadopsi inovasi tersebut. Selain itu, dorongan status juga menjadi faktor motivasional yang kuat dalam mengadopsi inovasi. Beberapa orang ingin selalu menjadi pusat perhatian dalam mengadopsi inovasi baru untuk menunjukkan status sosialnya di hadapan orang lain. Adopsi inovasi juga dipengaruhi oleh nilai yang dimiliki individu tersebut serta persepsi dirinya. Jika sebuah inovasi dianggapnya menyimpang atau tidak sesuai dengan nilai yang ia anut, maka ia tidak akan mengadopsinya. Semakin besar pengorbanan yang dikeluarkan untuk mengadopsi sebuah inovasi, semakin kecil tingkat adopsinya.
- Pengembangan Jaringan Sosial: Seseorang yang telah mengadopsi sebuah inovasi akan menyebarkan inovasi tersebut kepada jaringan sosial di sekitarnya, sehingga sebuah inovasi bisa secara luas diadopsi oleh masyarakat. Difusi sebuah inovasi tidak lepas dari proses penyampaian dari satu individu ke individu lain melalui hubungan sosial yang mereka miliki. Riset menunjukkan bahwa sebuah kelompok yang solid dan dekat satu sama lain mengadopsi inovasi melalui kelompoknya. Dalam proses adopsi inovasi, komunikasi melalui saluran media massa lebih cepat menyadaran masyarakat mengenai penyebaran inovasi baru dibanding saluran komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal memengaruhi manusia untuk mengadopsi inovasi yang sebelumnya telah diperkenalkan oleh media massa.
Lima tahap proses adopsi
- Tahap pengetahuan: Dalam tahap ini, seseorang belum memiliki informasi mengenai inovasi baru. Untuk itu informasi mengenai inovasi tersebut harus disampaikan melalui berbagai saluran komunikasi yang ada, bisa melalui media elektronik, media cetak , maupun komunikasi interpersonal di antara masyarakat
- Tahap persuasi: Tahap kedua ini terjadi lebih banyak dalam tingkat pemikiran calon pengguna. Seseorang akan mengukur keuntungan yang akan ia dapat jika mengadopsi inovasi tersebut secara personal. Berdasarkan evaluasi dan diskusi dengan orang lain, ia mulai cenderung untuk mengadopsi atau menolak inovasi tersebut.
- Tahap pengambilan keputusan: Dalam tahap ini, seseorang membuat keputusan akhir apakah mereka akan mengadopsi atau menolak sebuah inovasi. Namun bukan berarti setelah melakukan pengambilan keputusan ini lantas menutup kemungkinan terdapat perubahan dalam pengadopsian.
- Tahap implementasi: Seseorang mulai menggunakan inovasi sambil mempelajari lebih jauh tentang inovasi tersebut.
- Tahap konfirmasi: Setelah sebuah keputusan dibuat, seseorang kemudian akan mencari pembenaran atas keputusan mereka. Apakah inovasi tersebut diadopsi ataupun tidak, seseorang akan mengevaluasi akibat dari keputusan yang mereka buat. Tidak menutup kemungkinan seseorang kemudian mengubah keputusan yang tadinya menolak jadi menerima inovasi setelah melakukan evaluasi.
Kategori pengadopsi
Rogers dan sejumlah ilmuwan komunikasi
lainnya mengidentifikasi 5 kategori pengguna inovasi :
- Inovator: Adalah kelompok orang yang berani dan siap untuk mencoba hal-hal baru. Hubungan sosial mereka cenderung lebih erat dibanding kelompok sosial lainnya. Orang-orang seperti ini lebih dapat membentuk komunikasi yang baik meskipun terdapat jarak geografis. Biasanya orang-orang ini adalah mereka yang memeiliki gaya hidup dinamis di perkotaan yang memiliki banyak teman atau relasi.
- Pengguna awal: Kelompok ini lebih lokal dibanding kelompok inovator. Kategori adopter seperti ini menghasilkan lebih banyak opini dibanding kategori lainnya, serta selalu mencari informasi tentang inovasi. Mereka dalam kategori ini sangat disegani dan dihormati oleh kelompoknya karena kesuksesan mereka dan keinginannya untuk mencoba inovasi baru.
- Mayoritas awal: Kategori pengadopsi seperti ini merupakan mereka yang tidak mau menjadi kelompok pertama yang mengadopsi sebuah inovasi. Sebaliknya, mereka akan dengan berkompromi secara hati-hati sebelum membuat keputusan dalam mengadopsi inovasi, bahkan bisa dalam kurun waktu yang lama. Orang-orang seperti ini menjalankan fungsi penting dalam melegitimasi sebuah inovasi, atau menunjukkan kepada seluruh komunitas bahwa sebuah inovasi layak digunakan atau cukup bermanfaat.
- Mayoritas akhir: Kelompok zang ini lebih berhati-hati mengenai fungsi sebuah inovasi. Mereka menunggu hingga kebanyakan orang telah mencoba dan mengadopsi inovasi sebelum mereka mengambil keputusan. Terkadang, tekanan dari kelompoknya bisa memotivasi mereka. Dalam kasus lain, kepentingan ekonomi mendorong mereka untuk mengadopsi inovasi.
BAB III
PENUTUP
3.1. Keimpulan
Makalah adalah tugas
mahasiswa khususnya tugas akhir mata kuliah. Manfaat makalah bagi mahasiswa
atau penulis adalah lebih menguasai informasi, berfikir, mengembangkan
berbagai gagasan,dan lebih banyak menyerap dan mencari
informasi.
Difusi
adalah proses pengkomunikasian inovasi melalui saluran?saluran ter tentu dalam
jangka waktu tertentu di kalangan anggota suatu sistem sosial. Difusi adalah
suatu corak khusus komunikasi, yang pesannya mengenai ide?ide ba ru. Inovasi
adalah gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh seseo rang atau
satuan pengguna lain. Selama berkenaan dengan perilaku manusia, ti dak terlalu
dipersoalkan apakah suatu ide itu “secara obyektif” baru (seandainya di ukur
dengan selang waktu sejak pertama kali digunakan atau ditemukan) atau ti dak.
Munculnya Teori Difusi Inovasi dimulai pada awal
abad ke-20, tepatnya tahun 1903, ketika seorang sosiolog Perancis, Gabriel
Tarde, memperkenalkan Kurva Difusi berbentuk S (S-shaped Diffusion Curve).
Kurva ini pada dasarnya menggambarkan bagaimana suatu inovasi diadopsi
seseorang atau sekolompok orang dilihat dari dimensi waktu. Pada kurva ini ada
dua sumbu dimana sumbu yang satu menggambarkan tingkat adopsi dan sumbu yang
lainnya menggambarkan dimensi waktu.
3.2.
Saran
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan
diatas, penulis menyarankan kepada semua pihak yaitu bagi pendidik, selain dapat menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari
juga dapat bermanfaat dalam diri sendiri dan masyarakat. Sehingga materi ini harus benar-benar dikuasai dan dipahami. Selain itu, dapat membantu meningkatkan
wawasan dan pengetahuan para mahasiswa.
DAFTAR
PUSTAKA
Rogers, Everett, M. (2003). Diffusions
of Innovations; Fifth Edition. Simon & Schuster Publisher
Hanafi,
Abdillah. 1987. Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Surabaya: Penerbit Usaha
Nasional
Rogers,
E.M. dan Shoemaker, F.F., 1971, Communication of Innovations, London:
The Free Press.
Rogers,
Everett M., 1983, Diffusion of Innovations. London: The Free Press.
Rogers,
Everett M, 1995, Diffusions of Innovations, Forth Edition. New York:
Tree Press.
Brown, Lawrence A., Innovation Diffusion: A New
Perpevtive. New York: Methuen and Co.
http://achmad 42.wordpress.com/2009/10/22 teori
difusi inovasi